18 Okt 2018
Aroma Kematian di Kamp Konsentrasi Nazi

Keterangan Gambar : REZA KAMILIN S.STP

OLEH REZA KAMILIN S.STP, Kepala Tata Usaha Satpol PP dan WH Kota Banda, melaporkan dari Weimar, Jerman (Sekarang menjabat sebagai Camat di Kecamatan Banda Raya, Kota Banda Aceh)

KAMP konsentrasi secara umum merupakan suatu tempat untuk mengumpulkan dan menahan lawan dan tawanan politik. Biasanya kamp konsentrasi didirikan saat perang atau pada masa sebuah negara bergejolak hebat.

Buchenwald merupakan salah satu kamp konsentrasi terbesar Nazi, dari sekian banyak kamp konsentrasi yang didirikan oleh Nazi Jerman di Eropa selama Perang Dunia II. Kamp Buchenwald berada di Weimar, kota di bagian tengah Jerman, berjarak sekitar 280 km dari Frankfurt. Weimar dapat dicapai dengan tiga jam perjalanan kereta api dari Frankfurt.

Kamp Buchenwald terletak di sebuah hutan terpencil di lereng Pegunungan Etter, sekitar 8 km dari Kota Weimar. Sepanjang jalan dari Weimar menuju ke kamp, kita akan melewati hutan lebat yang masih alami. Tak ada perumahan penduduk atau bangunan lainnya.

Kamp Buchenwald dibangun Juli 1937. Sebagai kamp terbesar, kamp ini terdiri atas 50 blok dengan luas lebih dari 10 hektare. Ada beberapa bangunan yang masih tersisa dan terjaga baik di kamp ini. Area kamp yang sangat luas membuat kita harus mempersiapkan fisik yang prima untuk menjelajahi setiap sudutnya. Entah mengapa, aroma kematian, sunyi, dan mencekam langsung terasa ketika kita menapaki bagian demi bagian dari kamp. Ditambah lagi angin dingin menusuk tulang yang berembus sepanjang tahun di kamp ini.

Melihat kondisi di dalam kamp, jelas tergambar kalau kamp ini merupakan kamp kerja paksa, kamp penyiksaan, dan pembantaian! Bahkan ada pengunjung yang kami lihat tak sanggup menahan air mata. Ia menangis saat melihat bekas-bekas kekejaman yang masih tersisa di kamp ini.

Kamp Buchenwald dibangun untuk menampung para tahanan politik di masa Adolf Hitler berkuasa di Jerman, juga untuk menahan kaum homoseksual, dan orang-orang Yahudi. Para tahanan bukan hanya dari Jerman, tapi hampir dari seluruh Eropa. Sekitar 50.000 tahanan diperkirakan meninggal di kamp konsentrasi ini.

Sisa-sisa kekejaman masih bisa kita temukan di sini. Penjara sempit nan kokoh, sel bawah tanah, dan alat-alat kerja paksa masih terpelihara dengan baik. Yang membuat saya dan istri berdiri bulu roma adalah ketika kami masuk krematorium, tempat pembakaran jenazah. Bangunan ini terdiri atas beberapa ruangan. Bagian depan bangunan merupakan ruang tahanan lengkap dengan berbagai alat penyiksaanya. Di sebelahnya terdapat ruang penyimpan mayat sebelum dibakar.  Tepat di tengah bangunan, di ruangan itu tersusun rapi enam tungku besar memanjang yang terbuat dari besi-besi tebal dan kuat, ukurannya masing-masing sebesar peti jenazah orang dewasa. Itulah alat yang katanya digunakan untuk membakar para tahanan. Setiap pengunjung yang masuk ke ruangan ini akan merasakan suasana hening dan syahdu saat memandangi bunga yang berjejer diletakkan di sekitar tungku itu. Pemandangan yang menakutkan yang membuat kita tak ingin berlama-lama di ruangan ini. Di samping ruangan tersebut, terdapat kamar yang di dalamnya tersusun rapi ratusan guci kecil yang berisi abu mayat para tahanan yang dibakar.

Pada tahun 1945, kamp ini direbut Uni Soviet. Dalam penguasaan Uni Soviet, menurut beberapa sumber, kamp ini juga tidak beralih fungsi. Justru digunakan untuk markasnya NKVD. NKVD merupakan Dinas Rahasia Uni Soviet. Tawanan yang ditahan di sini pada saat itu adalah mereka-mereka yang dianggap berafiliasi dengan Nazi yang membahayakan paham Stalin-ismenya Uni Soviet.

Saat Perang Dunia II berakhir, kamp ini diserahkan kepada Jerman pada 6 Januari 1950 dengan manifes 123.000 warga Jerman, 35.000 warga negara lainnya, dan setidaknya 43.000 dari mereka tak mampu lagi bertahan hidup.

Kini, kamp yang dulunya terkenal angker itu telah berubah fungsi sebagai tempat peringatan, tempat pameran, dan museum yang sepenuhnya dikelola oleh Buchenwald & Mittelbau Dora Memorial Foundation.